Semarak Denpasar Festival ke-15 telah sampai pada puncaknya. Beragam pementasan mulai dari Adiyogi Yogasana hingga peragaan busana turut mengisi panggung terakhir Denfest di pelataran Pasar Badung.

Perayaan pesta akhir tahun Denpasar Festival ke-15 telah sampai di penghujung rangkaian. Menyambut penutupan seluruh mata acara, Denfest pada Minggu (25/12) terlihat ramai oleh pengunjung yang tidak ingin melewatkan diri untuk merasakan suasana semarak Denfest tahun ini. Pelataran Pasar Badung pun turut bertambah ramai oleh masyarakat yang sekedar berkunjung ataupun menantikan pementasan terakhir di panggung pelataran Pasar Badung.

Beragam mata acara turut memanjakan masyarakat yang setia menanti pementasan yang terjeda kembali oleh gerimis hujan. Hingga suara pembawa acara menggema di seluruh pelataran, masyarakat langsung dengan sigap mencari posisi terbaik untuk nantinya dapat menikmati keseluruhan acara di atas panggung dari posisi tersebut.

Adiyogi Yogasana persembahan dari Konsulat Jenderal India menjadi suguhan pembuka bagi masyarakat di Pelataran Pasar Badung. Olah tubuh yang dinamis serta suasana rintik hujan memberikan nuansa tenang dikala penampilan diatas panggung. Beragam gerakan seolah ingin menyampaikan sebuah rasa dari kegiatan yoga itu sendiri. 

Yoga – Penampilan Adiyogi Yogasana oleh Konjen India sebagai pembuka acara di panggung pelataran Pasar Badung (25/12)

Persembahan Konjen India berlanjut dengan penampilan Odissi Fusion yang dibawakan oleh beberapa orang tim. Uniknya,  tarian ini tidak hanya menyuguhkan tarian dengan musik India, namun juga diberi instrumen berupa musik barat seperti Ed Sheeran yang dikolaborasikan dengan olah tubuh tarian India. Navin Meghwal selaku konseptor sekaligus Director SVCC Bali turut menyampaikan konsep yang diusung dari penampilan Konjen kali ini, “Konsep tarian malam hari ini konsep dimana tari ini tari India ada tari Bali dan di mix dengan musik barat itu untuk mengajak audience menikmati lebih enjoy meski ini tarian klasik tapi bisa dinikmati dengan cara yang berbeda” ucap Navin pada wawancara Minggu (25/12). 

Tari – Penampilan tari yaitu Odissi Fussion sebagai persembahan kedua dari Konjen India (25/12)

Navin beserta seluruh tim dari pusat kebudayaan India turut ingin menyampaikan pesan kepada seluruh pengunjung melalui penampilan Adiyogi Yogasana dan Odissi Fussion tersebut, “tidak ada batasan jika kita berbicara tentang kebudayaan, kebudayaan itu sangat besar, luas dan kita bisa menjadi keluarga di satu wadah kebudayaan” tutup Navin pada wawancaranya.  

Semarak di pelataran Pasar Badung tak berhenti sampai disana, kini berlanjut dengan penampilan dari komunitas cosplay Bali yang menampilkan beberapa talent yang berpakaian menyerupai karakter kartun Jepang, beberapa diantaranya merupakan salah satu pemenang dari Coswalk Competition yang diadakan di hari ketiga Denfest.

Cosplay – Penampilan dari komunitas Cosplay Bali di pelataran Pasar Badung

Panggung kian meriah dengan penampilan dari 5 Besar costum carnival di D’Youth Festival. Masing – masing model berlenggang dengan anggun diatas panggung dengan menggunakan kostum unik yang mengandung makna di tiap ukirannya.  I Nyoman Agus Hari Sudama Giri selaku konseptor dari dua kostum yang turut tampil di panggung pelataran Pasar Badung menceritakan konsep dan inspirasi dari kostum yang ditampilkan, “dalam penciptaan konstum karnaval pada malam hari ini saya ingin membuat kostum dengan konsep modern tetapi dengan menggunakan pakem – pakem kesenian tradisi kita di Bali yang sudah ada jadi ada konsep hiasan tangan maupun ampok – ampok dan lamak akan tetapi beberapa kemasan desain saya buat sekekinian mungkin berdasarkan konsep – konsep yang sudah menjadi darah daging kita di Bali” ucap Agus ketika ditemui pada Minggu (25/12). 

Kostum – Penampilan costum carnival dari 5 besar D Youth Festival

Dua kostum yang diberi nama yaitu “Ayu Mas Petak” dan “The Queen of Memedi” yang dikonsep oleh Agus Hari tak hanya menampilkan estetika tetapi juga memiliki makna tersendiri di tiap ornamen – ornamen yang dipasangkan di konstum tersebut. Salah satunya yaitu Ayu Mas Petak dengan ornamen yang terbuat dari ental  ini disampaikan oleh Agus Hari sebagai interpretasi dari landasan di Bali yang dahulunya menggunakan lontar sebelum ditemukannya buku untuk menulis. Dominasi warna putih pada kostum Ayu Mas Petak ini pun juga memiliki makna tersirat yaitu diceritakan oleh Agus Hari sebagai simbol pesan yang mengandung kepada wanita bagaimana wanita dalam menjaga kesuciannya. 

Berlanjut, pengunjung pun turut dikenalkan kembali dengan rasa budaya melalui sebuah peragaan busana DEKRANASDA Kota Denpasar yang didukung oleh ISI Denpasar dan IDB. Satu persatu model menunjukkan kostum dengan balutan kain endek yang dimodifikasi menjadi berbagai model, turut memukau pengunjung yang berada di sekitar panggung. 

Busana – Penampilan peragaan busana DEKRANASDA Kota Denpasar didukung ISI Denpasar dan IDB

Komunitas seni Naluri Manca turut berpartisipasi dalam mengajak pengunjung berdansa melalui sebuah penampilan Flasmob. Semarak penampilan komunitas yang disambut meriah oleh masyarakat tersebut turut menutup perayaan cahaya keindahan Tejarasmi pada malam terakhir Denpasar Festival di panggung pelataran Pasar Badung. 

Gelaran fesyen turut memeriahkan Denpasar Festival tahun ini, tidak hanya dengan media stand-stand fashion yang berjejer di kawasan Gajah Mada, tetapi juga melalui mata acara fashion show sekaligus pemberian ruang untuk memamerkan koleksi terbaik dari desainer.

 

Dilaksanakan di Gedung Negara Alaya pada Minggu (25/12), lenggak-lenggok model satu-persatu memamerkan koleksi terbaik dari desainer Bali. Belasan desainer dengan berbagai karya terbaiknya ditampilkan dihadapan penonton. Terdapat hal yang spesial yakni pada peragaan pertama merupakan Juara I Umum peragaan busana pada Pesta Kesenian Bali tahun 2022 yang meliputi busana adat ke kantor, busana casual, serta busana pengantin modifikasi. 

Tak terbatas disitu, giat kolaborasi juga dilakukan pada ajang fashion show kali ini. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI Denpasar), dan Institut Desain dan Bisnis (IDB Bali) tuk menampilkan koleksi unggulan mereka. Pada fashion show tersebut, Duta Endek Kota Denpasar dan Teruna-teruni Kota Denpasar turut ambil andil dalam memperagakan koleksi tersebut. 

Penyerahan penghargaan kepada desainer pada fashion show, Minggu (25/12)

Pada akhir peragaan busana tersebut, dilanjutkan dengan pemberian penghargaan oleh Walikota, Wakil Walikota, Ketua Dekranasda, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Denpasar sebagai bentuk apresiasi. 

Made Dwi Cahaya Laksmi selaku salah satu desainer yang ikut serta dalam peragaan busana tersebut mengaku sangat senang karena telah diberikan kesempatan beserta apresiasi. “Kalau dari saya kami sangat bangga tampil di Denfest dan diundang untuk langsung menunjukkan karya kami itu merupakan apresiasi yang luar biasa,” ungkapnya pada Minggu (25/12). Pihak IDB sendiri mengirimkan 15 desain dengan 7 desainer yang memperagakan busana endek modifikasi beserta busana pesta modifikasi. Proses pengerjaannya pun terbilang cukup singkat yaitu selama satu bulan pengerjaan. “Kita mulai dari mendesain, menjahit, membuat pola itu semua dari kami sendiri untuk busana kali ini merupakan tugas dari project semester, pengerjaannya satu bulan,” tutur Cahaya.

Penampilan musik reggae sebagai penutup manis gelaran Denpasar Festival di Dharma Negara Alaya

Selain fashion show, perhelatan akhir tahun yang telah mencapai puncaknya malam itu turut menampilkan musisi dengan karya-karya unggulan. Mereka ialah Tri Brother sebagai Juara 1 band D’Youth Festival, UTE, The Jings, Mesandal Keroncong, Skool of Rox yang merupakan Juara II Indie dalam ajang Youth Festival 2022, Twenty Ten yang merupakan Juara I Indie pada ajang Youth Festival 2022, Soullast, dan Soul Rebel. 

Meskipun terkendala cuaca hingga akhirnya dilaksanakan di Gedung Dharma Negara Alaya, tetapi hal tersebut tak menyurutkan semangat musisi dan desainer yang tampil. Terlihat ketika penampilan raggae oleh Soullast dan Soul Rebel berhasil mengajak penonton tuk berdanska dengan musik reggae. “Dengan melihat cuaca kita mengambil inisiatif untuk memindahkan dan terdapat pula live streaming di Youtube,” ungkap Wakil Walikota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa.

Suasana meriah terasa pada hari terakhir gelaran kreatif Denpasar Festival ke-15 pada Minggu (25/12). Masyarakat tumpah ruah berkunjung ke zona-zona pelaksanaan Denfest di Kawasan Heritage Gajah Mada. Produk kuliner yang tersaji pun ludes terjual, begitu pula penutupan Denfest yang menghadirkan musik reggae oleh Joni Agung & Double T padat merayap dipenuhi penonton.

Melimpah ruah – para pengunjung penutupan Denfest ke-15 memenuhi Lapangan Puputan Badung.

Cuaca terlihat cerah meski sesekali diselingi hujan pada penutupan Denpasar Festival ke-15. Sejak pagi, banyak pengunjung yang berdatangan seolah tidak ingin kelewatan merasakan keseruan perhelatan akhir tahun Kota Denpasar itu. Semakin malam, semakin ramai. Bahkan, sepanjang jalan yang melintang di Kawasan Heritage Gajah Mada pun harus dilalui dengan berhati-hati karena dipenuhi oleh warga yang mampir membeli berbagai produk stand UMKM. 

Momen Denfest ini memberikan pengalaman yang membahagiakan bagi Made Wikwik, salah satu UMKM Kecamatan dari Penatih. Wiwik yang menjualkan kuliner tradisional di sekitar Subak Anggabaya pun merasakan antusiasme yang tinggi ketika menggelar produk-produknya di Denpasar Festival. “Kami dari usaha kecil merasa terbantu dengan ikut di Denpasar Festival jadi masyarakat mengenal menu tradisional dari daerah masing-masing agar tidak punah, pengalaman ini menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan,” ujarnya di sela-sela berjualan. 

Stand UMKM – antrian pemesanan sajian kuliner di stand UMKM.

Senada dengan Wiwik, Rahma, peserta stand UMKM Kuliner Heritage dari Warung Story pun mengaku jualannya habis terjual. “Ini hari terakhir dan pengunjung sangat ramai, kemudian ada juga kunjungan Ibu Gubernur yang memborong 40 pcs. Jadi keseluruhan astungkara habis nggih,” ungkap Rahma. Sebagai pelaku UMKM, ajang Denfest dimaknainya sebagai pengenalan lebih luas menu maupun produk yang ada pada usahanya. “Jadi bukan hanya laba, tapi juga bisa mendapatkan pengenalan lebih luas sekaligus menggiring agar mampir ke stand atau ke restoran kita,” tambahnya. Tantangan cuaca pun tidak menjadi halangan bagi para UMKM. Bagi Rahma, semangat dan strategi dalam mengolah ketersediaan bahan produk menjadi kunci. 

Selain kepadatan stand UMKM, ada pula beragam program acara kreatif yang sudah terangkai sejak pagi hari. Dimulai dari pukul 07.00 WITA, ada kegiatan yoga yang terlaksana di Wantilan Inna Heritage Hotel dan kegiatan Usadha Masal sejak pagi hari pukul 09.00 WITA. Semakin meriah, ada pementasan musik di Gedung Dharma Negara Alaya, sejak sore hari, seperti UTE, The Jings, Mesandal Keroncong, Skool of Rox, Twenty Ten, Tri Brother, Soullast, dan Soul Rebel yang juga disiarkan secara langsung pada YouTube Channel Kreativi Denpasar. Selain pementasan musik, ada pula Fashion Show Dekranasda Kota Denpasar.

Pemanggungan seni budaya juga tidak kalah memikat hati. Di Pelataran Pasar Badung, ada pementasan seni dari Adiyoga Yogasan & Odissi Fusion persembahan Konjen India, Komunitas Cosplay Bali, Costume Carnival 5 besar D’Youth Fest, serta Flashmob. Pada saat yang sama, pemutaran film Denpasar Sineas Festival berlangsung di Wantilan Inna Heritage Hotel. Ada 17 film yang telah terkurasi yang ditayangkan sekaligus diselingi dengan talkshow “Kolaborasi Lintas Genre Dalam Penciptaan Karya FIlm dan Buku” yang menghadirkan praktisi audiovisual, yakni Nirartha Diwangkara dan Ketut Sudiani dari Komunitas Film Sarad.

Talkshow – rangkaian program acara Denpasar Sineas Festival.

Menuju penghujung acara pada malam hari, di Lapangan Puputan Badung, hadir musisi-musisi bergenre reggae yang dimeriahkan oleh Bobi Dinar, Small Axe, dan Joni Agung & Double T. “Hari ini kita mempersembahkan 15 sampai 18 lagu, senang sekali kita selalu dilibatkan di salah satu festival terbaik. Jangan lupa undang Joni Agung lagi,” ujar Joni Agung seraya tertawa saat dijumpai sebelum menuju panggung. 

Di sela-sela akhir perhelatan Denfest ke-15, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, SE, bersama Wakil Walikota I Kadek Agus Arya Wibawa, SE, MM, dan Sekda Kota Denpasar, IB Alit Wiradana bersama jajarannya nampak meninjau langsung menyapa warga dan mampir ke beberapa stand-stand yang telah ramai pengunjung. Mewakili Pemerintah Kota Denpasar, Jaya Negara menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah antusias berkunjung maupun berpartisipasi pada Denfest tahun ini. “Intinya, dengan pelaksanaan Denfest ini masyarakat bisa terhibur, itu prioritas luaran yang kami harapkan,” terangnya saat berhenti di Depan Patung Catur Muka. Lebih lanjut, Jaya Negara memaparkan, rata-rata transaksi ekonomi pada pelaksanaan Denfest ke-15 mencapai Rp. 450-500 juta per hari. Rupa pelaksanaan Denfest ke-15 pun akan menjadi pembenahan untuk pelaksanaan yang selanjutnya. Menutup kunjungannya, Jaya Negara mengucapkan selamat merayakan hari raya dan tahun baru. “Kami juga mengucapkan Selamat Hari Raya Natal dan Selamat Tahun  Baru, rahajeng nyanggra hari suci Galungan & Kuningan, semoga apa yang dicita-citakan bisa berjalan lancar.” harapnya seraya mencakupkan tangan. 

Kunjungan – Wali Kota Denpasar dan jajarannya meninjau pelaksanaan penutupan Denfest ke-15 di sela-sela acara.

Selain berfokus pada bidang ekonomi dan seni kreatif, Denpasar Festival ke-15 juga menyuguhkan mata acara yang menitik fokus pada bidang kesehatan diantaranya adalah Yoga dan Usadha Massal. Read more

Hampir seharian Kota Denpasar diguyur hujan pada Jumat (23/12). Meski demikian, pengunjung tidak surut datang ke Denpasar Festival ke-15 pada hari ketiga. Terlebih, adanya pemutaran film Denpasar Sineas Festival seolah menyuguhkan kehangatan di tengah malam yang dingin. Di sisi lain, ada pula penampilan musik di Lapangan Puputan Badung yang harus pindah ke Gedung Dharma Negara Alaya karena faktor keselamatan bersama. 

Menonton – para pengunjung memenuhi bangku penonton di Wantilan Inna Heritage.

Memasuki tahun kedua pelaksanaan, Denpasar Sineas Festival merupakan gelaran kreatif perfilman yang dilaksanakan sebagai salah satu program acara di Denpasar Festival. Berisi dengan penayangan film serta talkshow, Denpasar Sineas Festival berupaya mengakomodir dan mendukung geliat karya kreatif para pembuat film (sineas) berbakat dan memberikan ruang kepada masyarakat dalam menikmati karya-karya film yang telah dihimpun. Menurut penjelasan A.A. Ngr Bagus Kesuma Yudha, selaku Koordinator Denpasar Sineas Festival, terdapat 50 film yang berhasil terhimpun dari seluruh Indonesia untuk ditayangkan di Wantilan Inna Heritage Hotel, Denpasar. “Tahun inin  Denpasar Sineas Festival cukup berbeda dengan tahun lalu karena tahun ini terpusatnya di Gajah Mada. Dari sega tema juga sekarang kita lebih bebas, sehingga kita bisa menjaring submit film sebanyak 50 dari seluruh indonesia. Jadi ada tiga kategori, dokumenter, fiksi, dan animasi akhirnya memeriahkan Denpasar Sineas Festival ini dengan 44 film yang terkurasi,” terang pria yang karib disapa Gung Yudha itu. 

Pemutaran film pun dimulai pukul 19.00 WITA dengan menayangkan lima film, yakni Meburu, Warisan Cita Rasa Bali – Bali, Rahayu, Loloh Cem-Cem, dan Pulau Plastik. Pada saat pemutaran film Meburu, terlihat kursi penonton dipenuhi oleh para pengunjung yang bertandang ke Denpasar Festival. Sembari menikmati makanan masing-masing, mereka menonton film yang berdurasi satu jam tersebut. Film Meburu merupakan sebuah film dokumenter budaya kolaborasi kampus IDB Bali dengan Desa Adat Panjer yang membingkai tradisi Meburu khas Desa Adat Panjer. Lebih lanjut, tradisi ini dirayakan satu tahun sekali tepat sehari sebelum nyepi atau saat Tawur Agung Kesanga bersamaan dengan dilakukannya pawai ogoh-ogoh. Ritual ini memperlihatkan beberapa pemangku yang terpilih sebagai medium penghubung Roh kemudian melakukan perburuan. ‘Mereka’ akan berlari mencari Caru (sesajen) ke arah Pura Tegal Penangsaran dan berakhir pada proses Nyomya atau melebur ke alam masing-masing. 

Talkshow – selepas pemutaran film terdapat talkshow bersama para praktisi dunia audiovisual.

Bagi Gung Yudha, film-film yang terkurasi pun difokuskan kepada kedalaman cerita. “Jadi tidak melulu karena standar teknis. Bahkan, ada juga film-film dari pelajar yang masuk ke program acara Denpasar Sineas Festival,” imbuhnya. Pemutaran film yang dilaksanakan pada wantilan terbuka menemukan tantangannya tersendiri, apalagi segmen penonton yang lebih acak. Ini pun meberikan wawasan dan pengalaman baru bagi para pelaksana. “Kita lihat beberapa audiens itu suka genre seperti apa. Film yang awalnya disangka ramai ternyata nggak, kemudian ada juga film yang disangka tidak ramai ternyata ramai. Contohnya, film Meburu, film ini menggunakan Bahasa Bali halus, sedikit Bahasa Indonesia dan Inggris. Ternyata tadi banyak yang masih mau stay melihat film itu dari awal sampai akhir mungkin ada kedekatan secara sosiologisnya maupun geografisnya,” tambah Gung Yudha. Meski demikian, Denpasar Sineas Festival menambah variasi kegiatan pengunjung Denpasar Festival. 

Acara pemutaran film pun berlanjut dengan Talkshow bersama praktisi dunia audiovisual. Kali ini ada Talkshow “Menjadi Eksis Nan Lucu di Medsos? Kenapa Engga?” yang menghadirkan Itakimo dengan dipandu oleh moderator Arya Pinatih. Itakimo yang kerap menggarap konten komedi pun menunjukkan kelucuannya selama keberlangsungan Talkshow dan mengundang gelak tawa dari penonton. Talkshow membahas tentang dibalik layar pembuatan konten dari @itakimo_bali. Itakimo Bali yang terdiri dari Eka Kadalora alias Kadal, I Wayan Ivan Wahyu Praditya, I Ketut Roja Sudarsana, dan Budi Astawa mencaritakan bahwa mereka wajib mengirimkan masing-masing Dua ide untuk dibahas dalam satu minggu. Setelah itu, ide-ide tersebut akan dikemas dalam tiga konten per minggu. 

Bali Guitar Mob – pementasan musik gitar kolosal yang berpindah ke Gedung DNA.

Berpindah ke panggung musik Lapangan Puputan Badung, terdapat penampilan musik dari Sekolah Musik Sangaji, Balawan Music Training Cantre, Dunky, Psychomachine, Pherona, Super Soda, Bali Guitar Mob, GAG, Hydra, Triple X, dan Navicula. Namun, karena hujan melanda tanpa jeda, penampilan musik pun dipindah ke Gedung Dharma Negara Alaya keesokan harinya pada Sabtu (24/12). Gusti Bagus Wisatawan atau yang akrab disapa Wis, gitaris Hydra dan Vlaminora mengaku pementasan Bali Guitar Mob ini melibatkan sebanyak 30 orang gitaris berbakat di Bali. “Pertama kali saya dan teman-teman dimandatkan untuk pelaksanaan Bali Guitar Mob, langsung terbit ide mementaskan gitar kolosal di Bali. Tapi mengedepankan gitaris muda tanpa meninggalkan gitaris yang senior juga,” ujar koordinator pementasan Bali Guitar Mob itu. Keterlibatan 30 orang tersebut ialah berasal dari komunitas organik yang terbentuk dari aktivitas kreatif dunia musik di Bali. Adapun bassist band Hydra yang juga menjadi penata musik Bali Guitar Mob mengatakan penampilan mereka kali ini menghadirkan genre musik rock. “Genrenya menyesuaikan gitaris yang terlibat kebanyakan gitaris rock. Jadi kita mengcover tiga lagu rock,” ujar Zio. Adanya Guitar Mob ini diharapkan oleh Wis dapat menjadi awal soludaritas komunitas gitar di Bali. “Kita ingin kita bisa lebih solid. Jadi nanti bisa berkarya bareng-bareng.” tutup Wis berharap. 

Konser musik – beberapa band berpindah tampil dari Lapangan Puputan Badung ke Gedung DNA.

Berkenalan dengan Nirartha Bas Dwiwangkara, sutradara yang salah satu filmnya hadir pada program acara Denpasar Sineas Festival pada Minggu (25/12). Sungguh, tak banyak orang seperti Nirartha, ketika kondisi seolah membuat pesimis untuk berkarya, Nirartha tetap percaya bahwa dedikasinya akan selalu membukakan jalan dan peluang. Ini dibuktikan dalam kiprahnya sebagai filmmaker. Dedikasi Nirartha bahkan mengantarkannya ke berbagai festival film nasional hingga internasional. 

Sosok Nirartha Bas Diwangkara atau yang karib disapa Nirartha dan karya filmnya cukup santer diputar di ruang-ruang pemutaran di Bali. Ia kerap menjadi sutradara sekaligus produser kreatif. Kiprah Niratha dibidang film bermula dari hobinya saat masih duduk di bangku sekolah, meluangkan waktunya untuk menonton film hingga lima kali sehari. “Jadi waktu itu jaman SMP bosen gatau mau ngapain dan ingin jadi apa,” ungkapnya ketika dijumpai di sebuah coffee shop pada Selasa (20/12). Intensitas menambah literasi filmnya itu membuat Nirartha kemudian tertarik untuk mengikuti kegiatan volunteer beberapa pemutaran film di Bali. Dari sana, Nirartha kian mendalami minat dan bakatnya dibidang perfilman.

Teringat jelas dalam benarnya, sekitar 10 tahun yang lalu, kegiatan volunteernya itu membuatnya terdorong untuk ikut organisasi film pendek seperti Minikino. “Waktu itu saya juga sambil kerja di kantor, malemnya saya lanjut ikut acara tentang film,” ucapnya mengingat-ngingat. Semakin banyak film yang ia tonton, semakin besar keinginannya untuk berkecimpung dibidang pembuatan film. “Hanya saja masih ada rasa tidak percaya diri, karena setelah menonton banyak film, bukan masalah kita bisa mempraktikkan teknis ya, tapi tujuan kita apa sih pembuatan film itu, jadi kita mau menyampaikan apa,” tutur Nirartha seraya mengulah tangannya. Nirartha kala itu masih merasa bingung apa yang ingin ia suarakan jikalau ia membuat sebuah film. Sementara, ia merasa harus realistis dalam pembuatan film. “Jadi ada pilihan antara komersil dengan tujuan ekonomi atau film sebagai medium untuk berbicara,” tambahnya. Sebagai orang Bali, ada keinginan pesan-pesan yang ingin ia sampaikan terutama memperlihatkan Bali dari sisi selain kemegahan pariwisatanya. “Akhirnya saya memilih belajar di perfilman bukan hanya memahami bagaimana operasikan kamera, tetapi lebih ke pemikiran,” papar Nirartha. 

Pada tahun 2014 ia pun memantapkan jalan yang lebih serius untuk belajar tentang perfilman. “Tapi saya masih ada kerjaan di Bali, akhirnya saya apply beasiswa untuk belajar basic filmmaking di Amerika,” ujarnya. Niatnya itu pun berhasil diwujudkan. Nirartha menempuh studi Digital Media pada program Community College Initiative Program dari American Exchange Foundation dan Fulbright Indonesia di Pierce College selama setahun. 

Setahun belajar dari Amerika  Serikat, Nirartha belajar banyak terutama dalam hal produksi film. “Karena waktu di US belajar tentang accounting, tentang business plan, bahwa ini berkaitan dengan bisnis dan uang, jadi harus realistis,” kata pria yang juga lulusan Fakultas Sastra Universitas Udayana itu. Menimbang hal-hal teknis dan pendanaan, Nirartha sebagai sineas yang tergolong baru berkecimpung, berupaya untuk menjalin kolaborasi antar pegiat film di Bali. Terutama saat ia membuat film berjudul Tergila-gila di tahun 2019. Filmnya tersebut mengangkat sebuah isu sosial tentang konflik batin tokoh utama, seorang remaja di masa pubertas yang memiliki perasaan tak wajar kepada paman si tokoh utama pengidap penyakit kejiwaan ‘schizophrenia’. Di sisi lain, pada saat yang bersamaan juga menyukai salah seorang teman sekelasnya yang dianggap populer. “Cerita ini membuat saya galau. Ingin deh menceritakan tentang ini. Scriptnya jadi, tapi saya ga punya modal,” ucapnya seraya tertawa kecil. 

 

Terbentuknya Komunitas Film Sarad

 

Meski terhalang urusan permodalan. Nirartha pun mengupayakan kolaborasi dengan sesama pegiat film di Bali. Modal gotong-royong lah yang membuat ia kemudian bertemu dengan orang-orang yang membantu mewujudkan cerita filmnya tersebut. “Dari sanalah saya ketemu beberapa teman dan kita membuat komunitas yang bernama FIlm Sarad,” kata Nirartha. Komunitas yang menaunginya ini pun terus berkembang. Seiring pertumbuhan komunitasnya, ia juga menyadari bahwa proses berkarya memerlukan kolaborasi dari elemen kesenian lainnya, seperti teater, animator, hingga ilustrasi. 

Berbagai film pun telah dihasilkan Nirartha dengan kolaborasi yang terjadi dalam komunitas Film Sarad itu. Beberapa filmnya adalah animasi pendek Anak-Anak Milenial (2022) sebagai  produser dan sutradara, film fiksi pendek @itsdekraaa (2021) sebagai produser, dokumenter pendek Di Balik Lukisan Sidik Jari (2020) sebagai produser, film fiksi pendek Angkarayu sebagai asisten sutradara (2019), dan film fiksi Tergila-gila sebagai penulis naskah dan sutradara. Beberapa garapan film juga sedang berlangsung di tahun ini, seperti animasi pendek Temporary Temptation dan Where the Wild Frangapanis Grow. Konsistensi berkaryanya tersebut membuat beberapa film Nirartha mendapatkan penghargaan dalam beberapa kesempatan. Misalnya, film Tergila-gila yang mendapatkan Film Pendek Terbaik di Bali Jani Festival 2019 sekaligus masuk ke dalam nominasi FIlm Pendek Terbaik Festival Film Indonesia di tahun yang sama. 

Nirartha tak payah berkarya. Di tahun ini bahkan Nirartha baru menyelesaikan buku dan web series yang menjadi kesatuan tentang kuliner Bali yang berjudul Warisan Cita Rasa Bali. “Nah kebetulan ini diputar saat Denpasar Sineas Festival, lalu film saya yang lain adalah @Itsdekraa kebetulan saya produsernya, satu lagi tahun lalu saya buat animasi film pendek juga judulnya Anak-Anak Milenial, itu saya juga jadi produser dan sutradaranya,” jelas Nirartha sambil mengingat-ngingat. 

 

Dedikasi: Kunci Agar Tak Payah Berkarya 

Jika dilihat ke belakang, awalnya, Nirartha memang merasa tidak percaya diri. Tetapi, ialah yang justru yakin untuk memulai langkahnya. Baginya, seseorang harus mengetahui dirinya sendiri; ingin melakukan apa dan menjadi apa. Nirartha sendiri dengan lugas mengatakan ia ingin menjadi seorang filmmaker. Keinginannya diiringi dengan dedikasi. “Perlu dedikasi, dedikasi itu menurut saya pelajarin dari diri saya sendiri ketika kita tidak suka dengan apa yang kita kerjakan dan kita yakin dengan apa yang kita mau, itu pasti susah,” paparnya. Oleh karenanya, keyakinan terhadap diri sendiri dan tujuan yang dicapai baginya akan memberikan jalan dan peluang, seperti apa yang telah dialami Nirartha sendiri. Dedikasinya pun diringi dengan langkah kecil untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan. “Small steps. Dimulai dari hal yang kecil karena dulu saya ingin hanya hasil tapi tidak dengan proses. Dalam perjalanan, saya akhirnya percaya ternyata proses itu progress, dengan progress kita akan berkembang.” tutupnya. Ia yang ketika dahulu ragu memulai, ingin mengatakan bahwa langkah kecil untuk memulai apa yang dituju sangatlah penting. Nirartha dengan segala karya dan penghargaannya, telah membuktikan prinsip itu. 

Pada Jumat (23/12) Denpasar Festival memberi ruang bagi seniman muda kesenian sendratasik untuk menampilkan garapan terbaiknya. Dimulai dari gurat tawa komika hingga memesonanya pementasan puluhan siswa-siswi SMP dan SMA di Denpasar berhasil mengiringi dinginnya suasana malam itu. 

 

Denpasar festival ke-15 telah sampai pada hari ketiga, perhelatan di titik pemanggungan Pelataran Pasar Badung dibuka dengan sorak tawa bersama empat komika yang tergabung dalam Stand Up Indo Bali. Mereka adalah Mohammad Bernisa, Benedictus Pram, Ida Bagus Anggara, dan Guntur Pratama. Materi yang mereka bawakan mampu menghibur penonton yang hadir.

Menuju pada pementasan seni sendratasik (seni, tari, drama, dan musik), anak-anak hingga remaja yang tergabung dalam Sanggar Khayangan menyajikan pertunjukan yang bertajuk “Jingga Ufuk Timur”. Kelihaian dan kegemasan anak-anak dalam membawakan tarian tersebut berhasil menarik perhatian penonton yang hadir malam itu. 

Garapan tersebut menceritakan laksana Sang Surya tatkala memancarkan senyumannya perlahan di ufuk timur. Senyuman tersebut bak obat bagi tumbuhan, binatang, serta manusia yang rindu akan binar-binar cahaya keindahan, mereka pun menari-nari sebagai bentuk kegembiraan. Datangnya sinar seolah bergandengan bersama labuhnya berkah dan juga harapan. Begitulah Sanggar Khayangan mengartikan karya yang dibawanya di perhelatan Denpasar Festival kali ini.

Penampilan Teater Dirga dalam Denpasar Festival ke-15

Selain itu, Teater Dirga yang merupakan salah satu ekstrakulikuler asal SMP Negeri 6 Denpasar turut menyajikan kebolehannya di kawasan Patung Ratu Mas Melanting. Malam itu, 15 orang aktor dari Teater Dirga menampilkan sebuah pementasan satu kali duduk semacam operet yang mengambil cerita “Coco” dari Disney. “Kalau dari konsep mengambil cerita Disney Coco dan kita kemas menjadi pementasan satu kali duduk seperti operet cuman kita rombak sedikit. Ceritanya ada anak yang memiliki cita-cita sebagai pelukis, tetapi dilarang oleh orang tuanya karena suatu hal,” ungkap Tio selaku salah satu pihak dari Teater Dirga.

Sempat sesekali ditunda karena derai hujan ditemani dengan riuh angin di area pelataran. Namun, hal tersebut tak mematahkan semangat para seniman muda untuk tampil pada gelaran akhir tahun Kota Denpasar ini dengan karya yang berjudul “When she loved me“. “Tampil di Denfest adalah keinginan dan cita-cita kita untuk tampil di acara festival yang diadakan di kota yang pijak sekarang, walaupun hujan tapi karena kita tekad menghibur acara jadi kita harus selesaikan acara ini,” ungkap Tio selaku pelatih dari Teater Dirga.

Meskipun hujan mengguyur area pelataran, Komunitas Wijahyana tetap menampilkan garapan terbaiknya

Lebih lanjut, pementasan Denpasar Festival hari ketiga ditutup oleh Komunitas Wijahyana asal SMA Negeri 9 Denpasar yang menampilkan garapan berjudul “Jagat Sakanti”. Dengan memadupadankan tarian, karawitan, hingga baris berbaris yang membentuk formasi amat rapi berhasil menutup pementasan malam itu dengan manis. 

 

Rintik hujan di Lapangan Puputan tak langsung menghentikan semangat musisi-musisi Bali dalam menampilkan karya terbaik mereka. Dimulai dari membawakan musik bergenre pop hingga metal, seluruh musisi yang hadir mengguncang kemeriahan panggung di Teater Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya.

Pelaksanaan Denfest hari keempat nampak berbeda dengan sebelumnya, rintik hujan yang mengguyur wilayah lapangan puputan rupanya tak lelah untuk menyapa hingga hari keempat pelaksanaan Denfest. Pementasan musik yang semula direncanakan berlangsung di lapangan puputan pun turut mengalah akan sapaan hujan yang terus ingin jatuh.  

Dharma Negara Alaya menjadi salah satu panggung bagi seluruh musisi kreatif Bali untuk tampil pada pementasan musik di hari keempat Denpasar Festival ke-15. Mulai dari anak – anak hingga orang dewasa turut menyemarakkan pementasan musik di hari keempat ini. Genre musik yang dibawakan pun beragam, mulai dari pop hingga metalica seluruhnya berhasil mengguncang panggung Dharma Negara Alaya. 

Pementasan musik diawali oleh paduan suara anak – anak dari sekolah musik Farabi. Warna dari tiap suara yang berbeda, bersatu padu menciptakan harmoni yang memanggil seluruh pengunjung untuk datang dan menyaksikan secara langsung pementasan musik di Dharma Negara Alaya.  Pementasan musik terus berlanjut dengan penampilan musik pop era 2000an yang dibawakan oleh remaja – remaja dari Debeat Music Course, dan dilanjutkan dengan penampilan oleh Sanur Voice, Sunary Rocker, dan White Rose.  

Paduan Suara – Penampilan paduan suara yang dipersembahkan oleh Sekolah Musik Farabi

Panggung DNA kian pecah dikala musik dengan genre metalica dari Old Taro menggema di seluruh ruangan. Personil Old Taro dengan jiwa yang membara berhasil mengguncang panggung DNA. Panggung terus berlanjut dengan penampilan musisi lainnya, seperti Dejavu dan Ballbreaker yang membangkitkan semangat seluruh penonton untuk bernyanyi bersama. 

Metal – Penampilan grup musik Old Taro yang memeriahkan panggung DNA dengan musik genre metal

Berlanjut, pengunjung diajak hanyut dalam pementasan musik yang dibawakan oleh Nyanyian Dharma. Alunan musik pop dengan konsep yang berbeda serta lirik – lirik dari lagu yang dibawakan menjadi daya tarik dari musik Nyanyian Dharma,”konsep musik Nyanyian Dharma  lebih ke pop sebenarnya ya cuman liriknya lebih tentang agama semuanya basik musiknya pop” ucap Dewa Budjana selaku produser dari Nyanyian Dharma.  

Dewa Budjana turut menyampaikan apresiasinya terhadap musisi di Kota Denpasar yang turut serta tampil pada panggung DNA di hari keempat Denfest ini, “saya melihat banyak banget musisi di Denpasar yang bagus – bagus muda – muda tadi juga bareng main dengan Bali Gitar Mob para pemain gitar di Bali ada yang umur 11 tahun 14 tahun dari yang umur muda sampai umur yang jauh lebih tua generasinya bermacam – macam dan hebat – hebat semuanya” tutupnya pada wawancara Sabtu (24/12). 

Pop – Nyanyian Dharma tampil dengan musik bergenre pop yang dibalut dengan nuansa musik keagamaan

Panggung musik di Dharma Negara Alaya ditutup oleh suara khas dari Jun Bintang bersama Bintang Band yang hadir untuk memeriahkan semarak pesta akhir tahun ke-15 tersebut. Semangat yang dibawakan oleh Bintang Band tersalurkan ke seluruh penonton baik di DNA maupun di Lapangan Puputan melalui lagu – lagu khas anak muda. Jun Bintang turut menyampaikan apresiasinya atas perayaan Denpasar Festival yang turut memberikan ruang kepada musisi – musisi di Bali khususnya Kota Denpasar, “ini bentuk kepedulian pemerintah dalam memanjakan masyarakat,  ga semua orang punya waktu untuk nonton ke Denfest jadi bikin live streaming, menempatkan banyak titik – titik untuk memberikan hiburan kepada masyarakat menurut saya itu keren menjadi hal yang bagus cuma memang cuacanya yang tidak mendukung begitu ada pemindahan lokasi saya bersyukur akhirnya memang betul hari ini memang hujan tapi di live streaming jadi temen – temen di lapangan puputan juga bisa nonton” ucap Jun Bintang selaku vokalis dari Bintang Band. 

Bintang Band – Persembahan dari Bintang Band sebagai penampilan penutup di panggung Dharma Negara Alaya

Diakhir wawancaranya Jun Bintang turut menyampaikan pesannya kepada seluruh anak muda serta musisi – musisi lain yang tengah berkarya, “harapan saya pada ruang – ruang publik, menghibur masyarakat untuk berekspresi bukan hanya di panggung – panggung besar, panggung – panggung kecil pun bisa di Pasar Badung, di Renon, di Puputan dan sebagainya, jadi bibit – bibit kecil itu amat sangat membantu musisi – musisi yang ingin banyak dapat gig, bukan hanya menunggu event, tapi hal – hal kecil itu terus diberikan ruang oleh pemerintah dan saya yakin Denpasar pemerintahnya sudah mensupport banget seniman bukan hanya musisi, semoga dalam kepemimpinan bapak Walikota terus bisa bersinergi dengan seniman – seniman di Denpasar” tutupnya.  

Kadek Agus Arya Wibawa selaku Wakil Walikota Denpasar yang turut hadir dalam pementasan musik di panggung Dharma Negara Alaya turut menyampaikan alasan pemindahan pementasan musik dari lapangan Puputan ke panggung DNA, “kita dari pemerintah kota sangat mengapresiasi karena memang rencana awal  pelaksanaan musik itu kan ada beberapa titik di lapangan yang pertama di Puputan, kemudian yang kedua di stage Gajah Mada, dan yang terakhir di Pasar Badung dengan melihat cuaca seperti ini kita dari pihak panitia penyelenggara itu mengambil inisiatif untuk memindahkan dan live streaming yang bisa disaksikan di sekitar kawasan Gajah Mada, oleh karena itu tadi saya sempat menengok menyaksikan beberapa pertunjukan sehingga teman – teman dan musisi yang tampil merasa lebih semangat untuk tampil di Denpasar Festival ini” ucap bapak Agus Arya Wibawa pada wawancara Sabtu (24/12). 

Wawancara – Kadek Agus Arya Wibawa selaku Wakil Walikota Denpasar menyampaikan apresiasinya terhadap musisi – musisi yang tampil di panggung Dharma Negara Alaya

Beliau pun turut menyampaikan harapannya terhadap perkembangan musisi – musisi di Kota Denpasar, “saya berharap kreativitas dalam bermusik itu tidak boleh berhenti kemudian kita selalu tingkatkan dan pemerintah kota akan selalu memfasilitasi kegiatan – kegiatan kreatif dari para musisi Kota Denpasar.” tutup Arya Wibawa. 

Kreativitas seolah tak pernah pudar di Kota Denpasar, terbukti pada gelaran Denpasar Festival hari keempat (24/12) berhasil menghadirkan berbagai komunitas ataupun sanggar yang bergerak di bidang seni tradisional hingga modern. 

 

Pelaksanaan Denpasar Festival hari keempat di Pelataran Pasar Badung kini mengambil sajian kesenian budaya kontemporer. Perhelatan seni pengembangan ini berlangsung sejak pukul 18.45 hingga 21.45 WITA. Para penampil dalam pelaksanaan Denfest hari keempat yaitu, Sanggar Kanaka Akusara, Clarence Institute, Sanggar Yonggy Swara, Sanggar Sundaram, dan Komunitas Seni Naluri Manca. 

Musik kontemporer mengalun kencang di area pelataran yang menjadi tanda bahwa sajian budaya Denpasar Festival hari keempat telah resmi dimulai. Alunan tersebut dibawakan oleh Sanggar Kanaka Akusara yang memilih judul “Pelangi” dengan memaknai akan terbitnya cahaya setelah gelap, hujan, dan gemuruh langit melanda, meskipun tidak ada yang tahu letak ujung dari pelangi tersebut. 

Beralih menuju penampilan anak-anak hingga remaja yang tergabung dalam Clarence Institute. Menampilkan dua buah garapan musik hingga tarian kontemporer yang bertemakan tentang cahaya. Meskipun harus mengalah dengan derasnya hujan, tetapi semangat anak-anak yang meminta untuk segera tampil seakan ikut mengobarkan spirit kepada penonton yang hadir.

Walaupun rinai hujan menerpa, Sanggar Yonggy Swara semakin asyik memainkan hasil garapan alunan musik kontemporer

Selain itu, Sanggar Yonggy Swara turut menampilkan garapan musik kontemporernya yang mengambil judul “Suar” dengan makna cahaya. Garapan tersebut mengandung harapan agar cahaya keindahan terus terpendar untuk kian membangkitkan kreativitas di kota seni. “Untuk garapan tahun sekarang kita kebagian musik kontemporer dan mengangkat judul suar, kecepatan cahaya yang ada dan efek yang ditimbulkan,” ungkap I Komang Juni Antara selaku ketua sekaligus pendiri Sanggar Yonggy Swara. 

Dirinya juga mengaku sangat bangga karena ini bukan kali pertama bagi Sanggar Yonggy Swara untuk tampil di Denfest. “Kebetulan tahun lalu sudah tampil, dan tahun sekarang di hubungi kembali, awalnya kita ingin tradisi, dan akhirnya kita dapat musik kontemporer,” tambah Juni. Dengan persiapan yang terbilang singkat yaitu selama dua minggu, sajian musik kontemporer bertajuk “Suar” tersebut berhasil mengajak masyarakat yang hadir terbawa akan irama yang mendayu.

Alunan musik kontemporer dari Sanggar Sundaram di hadapan Patung Ratu Mas Melanting

Lebih lanjut, panggung diberikan kepada Sanggar Sundaram untuk menampilkan musik kontemporer berjudul “Hati Samudra” dengan alunan suling dan kekendangan yang menyejukan hati. Musik tersebut merupakan perpaduan musik modern dan tradisional. Hal ini menegaskan bahwa gamelan tradisi tetap kokoh di gencaran era modernisasi. Tak hanya musik, Sanggar Sundaram juga menyajikan tari kontemporer yang diberi nama “Tari Ening” dengan gerakan elok dan tenang. Tari tersebut merupakan tarian kontemplasi yang bermakna pembersihan diri. 

Hari semakin malam dan gelap, tetapi penampilan yang ditunggu-tunggu berhasil memecah gelapnya malam itu. Naluri Manca, sebuah komunitas kreatif mementaskan garapan unggulannya yang bertajuk “Glow in the dark“. Sekitar 50 penampil dikerahkan untuk menampilkan sajian spektakuler tersebut. “Konsep saya ingin habis – habisan disana, kebetulan Denfest merupakan suatu ruang atau event dimana masyarakat kita dari kaula muda khususnya ada disana, saya ingin mengangkat bagaimana keterkaitan tentang air dan juga udara,” tutur Ida Bagus Eka Haristha.

Uniknya, komunitas kreatif tersebut mampu membuktikan kelayakannya dengan tampil pada ajang pencarian bakat, Indonesia Got Talent tahun 2022. Ini sebabnya, tidak heran jika banyak masyarakat berbondong-bondong memadati area pelataran Pasar Badung tuk menyaksikan kemegahan garapan Naluri Manca.

Ternyata di Kota Denpasar melimpah kerajinan khas warisan budaya lokal. Di Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja, misalnya. Sejak zaman penjajahan Belanda di Denpasar pada tahun 1906, masyarakat Banjar Binoh Kaja sudah menekuni profesi sebagai perajin gerabah. Hal inilah yang ingin dibagikan dalam lomba melukis gerabah dan workshop tanah liat pada Denfest hari keempat (24/12).

Membuat kerajinan – salah satu peserta dan orang tuanya membuat kerajinan dari tanah liat.

Namun, itu adalah masa kejayaan saat dulu. Dewi Estede, generasi muda kelahiran Banjar Binoh Kaja mengakui sulitnya regenerasi perajin lokal gerabah di desanya. Neneknya ialah salah satu perajin gerabah di Binoh. Memang sebagian besar perajin di Binoh Kaja ialah perempuan dengan umur yang relatif tua. Mereka biasanya mengambil tanah dari halaman belakang ruma dan diubah menjadi berbagai kerajinan gerabah, seperti payuk, gebeh, coblong, paso, jeding, dan lainnya. “Dulu Binoh pernah jaya sebagai produsen gerabah terbesar di Kota Denpasar. Lalu, produksi gerabah disuplai untuk ke Pasar Payuk sebelum sekarang menjadi Pasar Badung,” ujar perempuan yang menjadi pendiri Membumi Project. Berawal dari misi regenerasi perajin gerabah, ia pun menginisiasi inovasi produk melalui Membumi Project, sebuah usaha sosial dengan jargon #marimaintanah. Lebih mendalam, Dewi memaknai tanah dapat menjadi medium terapi untuk pemulihan kesehatan raga dan jiwa. “Terutama bagi tumbuh kembang anak-anak.  Selain itu, ini juga berguna untuk mendistraksi kebiasaan bermain gadget pada anak-anak,” papar Dewi. 

Membumi Project – instruktor yang mengisi lomba melukis gerabah dan workshop tanah liat.

Membumi Project dengan segala manfaat yang ditawarkan pun hadir mengisi program acara Lomba Melukis Gerabah dan Workshop Tanah Liat di Wantilan Inna Heritage Hotel. Sedari pagi dimulai pukul 08.00 WITA, acara yang dilaksanakan di Wantilan Inna Heritage itu mengundang partisipasi dari anak-anak SD. Mereka saling beradu kebolehan dalam melukis gerabah. Selanjutnya, lebih ramai, workshop tanah liat pun dipenuhi oleh orang tua dan anak-anaknya. “Partisipasinya luar biasa bahkan sampai ada waiting list. Yang mendaftar ada 100 orang. Jadi 60an mendaftar lomba melukis, dan sisanya adalah workshop tanah liat. Kita membagi menjadi dua sesi, yakni 20 orang persesi,” ungkap Dewi. Antusiasme tersebut membuat Dewi semakin optimis ingin membangun kembali industri gerabah di Kota Denpasar. “Kita mengadakan workshop ini untuk transfer pengetahuan bagi generasi muda,” tambahnya. 

Salah satu orang tua dari partisipan anak-anak, Anak Agung Witara Sagamora mengungkapkan keseruan keluarganya mengikuti workshop tanah liat. “Seru, ini jadi pilihan aktivitas alternatif di musim liburan. Selain itu, melatih daya imajinasi, konsentrasi, dan kesabaran pada anak,” ujarnya sambil menemani anaknya membuat kerajinan dari tanah liat. 

Barong Sai – penampilan pertunjukkan Barong Sai di Kawasan Catur Muka.

Semakin meriah, di sore hari pada kawasan Catur Muka, ada penampilan Barong Sai yang telah dinantikan pengunjung. Menunggu rintik hujan reda, Barong Sai beraksi pukul 18.30 WITA. Penampilan Barong Sai dipersembahkan oleh Konco Dwipayana Tanah Kilap dan melibatkan setidaknya 25 orang. Anak Agung Sagung Istri Utami selaku koordinator mengaku pengalaman tampilnya di Denpasar Festival ke-15 sangatlah berkesan. “Kita berangkat ke sini sudah diguyur hujan badai. Syukur sampai di sini sudah reda. Penonton luar biasa kita ditunggu dari sebelum pentas,” ujarnya seraya tersenyum selepas tampil. Sebagai komunitas pencetus Barong Sai di Bali, ia berharap Denpasar Festival dapat lebih meriah dan dapat memberikan lebih banyak kesempatan tampil bagi berbagai kesenian yang ada di Bali.

Barong Sai – penampilan pertunjukkan Barong Sai di Kawasan Catur Muka.